Monday, 30 January 2017

Tradisi Sipaha Lima Pada Masyarakat Batak Parmalim

Sobat blogger medan pengunjung blog law office silaen & associates, kali ini kita kan membahas “Tradisi Sipaha Lima Pada Masyarakat Batak Parmalim”, yakni tradisi dan budaya yang merupakan sebuah upacara atau ritual suci yang dilakukan setahun sekali oleh masyarakat Batak Parmalim di Sumatera Utara. Dimana, tempat dilakukannya tradisi dan budaya Sipaha Lima ini adalah di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (Kab. Tobasa).

Mengenal Tradisi dan Budaya Sipaha Lima pada Masyarakat Suku Batak Parmalim

Sebelum kami melanjutkan pembahasan ini, perlu kiranya Anda para sahabat blogger medan pengunjung setia blog kantor advokat & pengacara agar terlebih dahulu membaca artikel yang telah kami tulis sebelumnya yang masih berkaitan dengan “Tradisi Masyarakat Parmalim” yang berjudul: “Tradisi Sipaha Sada” agar semakin memahami tradisi dan mengenal dari dekat budaya asli yang berkembang dan dilaksanakan oleh masyarakat Batak Permalim di Sumatera Utara (Sumut).

Kita lanjutkan membahas tentang apakah tradisi dan budaya Sipaha Lima itu? Tradisi Sipaha Lima adalah salah satu ritual atau upacara suci dalam tradisi masyarakat suku Batak yang dilaksanakan di Huta Tinggi, Labuboti, Sumatera Utara, khususnya bagi mereka masyarakat suku Batak yang menganut kepercayaan Malim (atau lazim disebut dengan Permalim). Tradisi Sipaha Lima ini lazim dilakukan sebagai satu ungkapan rasa syukur atas apa yang selama ini mereka dapatkan kepada sang pencipta. Tradisi Sipaha Lima ini biasanya dilaksanakan setahun sekali sesuai dengan kalender masyarakat Batak.

Kalau kita review tentang sejarah lahirnya Tradisi Sipaha Lima pada masyarakat Batak Parmalim, menurut beberapa sumber sejarah yang ada, tradisi ini sudah dilakukan para penganut Parmalim sejak ribuan tahun yang lalu hingga saat ini. Kepercayaan Parmalim ini merupakan kepercayaan asli masyarakat Batak pada jaman dahulu. Menurut sejarahnya lahirnya Tradisi Sipaha Lima ini awalnya diperkenalkan oleh Raja Sisingamangaraja XII. Selain sebagai salah satu pahlawan dan pemimpin masyarakat Batak, Raja Sisingamangaraja XII juga merupakan penganut kepercayaan Malim atau Parmalim ini.

Karena pada masa itu, para penganut Parmalim masih menyebar diberbagai tempat atau daerah, kemudian Raja Sisingamangaraja XII memberikan titah atau perintah kepada Raja Mulia Naipospos untuk melembagakan ajaran dan kepercayaan Parmalim tersebut agar para penganutnya dapat berkumpul bersama dan memiliki identitas yang jelas, salah satunya dengan pelaksanaan tradisi dan budaya Sipaha Lima ini.

Memahami Fungsi Dan Makna Tradisi Sipaha Lima
Tradisi Sipaha Lima ini dilakukan oleh masyarakat Batak, khususnya para penganut keparcayaan Parmalim sebagai salah satu ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta atas apa yang mereka dapatkan selama ini. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan untuk menghormati para leluhur Batak. Bagi masyarakat Batak Parmalim, tradisi dan budaya Sipaha Lima ini dimaknai sebagai upacara sakral/suci dan penuh kebersamaan yang penuh dengan suka cita. Hal tersebut juga sangat terlihat dari berbagai prosesi yang dilakukan selama berlangsungnya acara tersebut.

Nah, tradisi dan budaya Sipaha Lima pada masyarakat Batak Parmalim ini biasanya waktunya dilakukan setahun sekali, yakni pada bulan ke lima, sesuai dengan perhitungan kalender Batak. Sedangkan tempat pelaksanaan Tradisi Sipaha Lima ini biasanya digelar pada Bale Pasogit Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, yang juga menjadi tempat pusat penganut kepercayaan Parmalim. Bagi  penganut Permalim, “Bale Pasogit” (balai asal-usul) sendiri merupakan “Huta Nabadia” (tanah suci).

Pada pelaksanaan Tradisi Sipaha Lima ini, biasanya dilangsungkan dalam beberapa tahap utama, di antaranya adalah:
1) persahadatan (ikrar dan doa);
2) pemberian persembahan (pameleon);
3) dan panantion (pemberian nasehat-nasehat);

*) Tahapan-tahapan tersebut diatas biasanya dilaksanakan lebih dari satu hari, bahkan juga bisa sampai 2-3 hari.

Sebelum masyarakat Batak Parmalim akan mengikuti upacara tersebut, mereka diwajibkan melakukan beberapa persiapan. Karena tradisi ini adalah bersifat sakral dan suci, sehingga ada beberapa persiapan yang harus dilakukan, sesuai dengan ajaran dan ketentuan yang berlaku secara turun temurun. Selain itu, untuk mengikuti acara ini, mereka  juga diwajibkan untuk berpakaian adat, lengkap dengan ulos khas Batak.

Dalam pelaksanaan tersebut, pertama dibuka dengan prosesi persahadatan, dimana dalam prosesi ini biasanya dilakukan dengan memanjatkan doa-doa dan ikrar kepada sang pencipta agar diberikan kelancaran saat berjalannya acara Sipaha Lima. Selain itu, penganut Parmalim juga tidak lupa memanjatkan doa-doa kepada leluhur mereka, serta para pemimpin mereka terdahulu. Dalam prosesi tersebut biasanya dipimpin oleh pemimpin agama yang disebut dengan “Ihutan”. Setelah itu, biasanya akan dilanjutkan dengan tari tor-tor yang menjadi ciri khas Batak dan diiringi oleh musik tradisional “Gondang Batak” hingga selesai.

Keesokan harinya acara tradisi Sipaha Lima berlanjut dengan prosesi penyembelihan kerbau (horbo sakti) dan pemberian persembahan. Persembahan yang diberikan biasanya terdiri dari beberapa masakan khas Batak, termasuk kerbau yang sudah disembelih dan dimasak tersebut. Namun sebelum digunakan, persembahan tersebut tentunya harus disucikan terlebih dahulu. Setelah semua persembahan siap, kemudian diletakkan pada tempat khusus dan dilakukan doa-doa dengan dipimpin oleh Ihutan.

Pada prosesi terakhir, ditutup dengan panation atau pemberian ceramah oleh Ihutan. Isi ceramah tersebut biasanya tentang nasehat-nasehat dan ajaran agama agar mereka senantiasa berbuat baik. Setelah ceramah selesai kemudian dilanjutkan makan bersama, sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.

Nilai-nilai Dalam Pelaksanaan Tradisi Sipaha Lima
Bagi masyarakat Batak, khususnya penganut Parmalim, tradisi dan budaya Sipaha Lima ini sangat kaya akan nilai-nilai didalamnya. Terutama nilai religi, nilai budaya, nilai kehidupan, serta nilai kebersamaan.

Dari segi nilai religi, maka dilihat dari fungsinya, pelaksanaan Tradisi Sipaha Lima ini dilakukan sebagai media untuk berkomunikasi kepada sang pencipta, sehingga mereka lakukan dengan penuh ketulusan dan rasa hikmat dalam diri mereka.

Disamping itu, dari segi nilai budaya, pelaksanaan tradisi Sipaha Lima ini juga sangat kental akan nilai-nilai budaya asli masyarakat Batak. Hal itu sangat terlihat dari busana, rangkaian prosesi, serta berbagai filosofi yang terkandung di dalamnya, yang sangat identik dengan budaya pada masyarakat Batak.

Dari segi nilai-nilai kehidupan, tradisi Sipaha Lima ini juga sangat sarat akan nilai kehidupan masyarakat, dimana sebagai manusia kita harus selalu ingat kepada sang pencipta dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Hal tersebut kemudian mereka ungkapkan dalam Tradisi Sipaha Lima ini.

Sementara dari segi nilai kebersamaan dan persaudaraan adalah salah satu unsur penting yang termaktub dalam budaya asli suku Batak. Hal tersebut juga sangat terlihat dalam tradisi Sipaha Lima ini, dimana mereka berkumpul, baik yang datang dari daerah perantauan yang di wilayah nusantara dan atau luar negeri, baik daerah jauh maupun dekat dengan Sumatera Utara. Mereka bersama-sama merayakan tradisi ini dengan penuh hikmat dan suka cita.

Perkembangan Tradisi Sipaha Lima
Dalam perkembangannya, tradisi dan budaya Sipaha Lima masih terus dilaksanakan setiap setiap tahunnya oleh masyarakat suku Batak pada bulan kelima kalender Batak, khususnya para penganut kepercayaan Parmalim. Sebagai salah satu bagian dari tradisi dan budaya, tradisi ini  tentu masih terus mereka pertahankan hingga sekarang ini.

Demikian artikel yang membahas tentang “Tradisi Sipaha Lima Pada Masyarakat Batak Parmalim” di Huta Tinggi, Kab. Toba Samosir, Sumatera Utara. Semoga ada manfaat dan menambah pengetahuan para blogger medan, khususnya pengunjung setia blog  kantor pengacara & konsultan hukum silaen & associates tentang tradisi dan mengenal dari dekat budaya asli masyarakat Batak di Indonesia.

No comments:

Post a Comment