Tuesday, 21 June 2016

Aplikasi Mengasihi Musuh Membangun Karakter Rohani Kristen

Konsep dan asas mengasihi musuh dalam membangun karakter kehidupan rohani Kristen, landasannya dapat kita lihat ataupun tertulis dalam Injil Lukas 6 ayat 27 sampai dengan ayat 36. Memang, ayat ini bisa kita kategorikan sebagai salah satu “ayat emas” dalam Alkitab yang sangat sering dijadikan sebagai Nats Khotbah bila ada kegiatan keagamaan Kristen atau perkumpulan-perkumpulan umat Kristiani (kebaktian atau kebangkitan rohani).

Nats Membangun Karakter Pemuda-Pemudi Umat Kristen Dalam Aplikasi Dan Implementasi Mengasihi Musuh

Kalau kita telaah dan perhatikan bahwa ajaran terdalam Tuhan Yesus Kristus kepada seluruh umat-Nya di dunia ini adalah “KASIH”. Meskipun, fakta nyata yang acapkali terjadi didunia, jarang kita melihat dan menyaksikan bahwa banyak orang yang selalu berkoar-koar sangat lantang dan nyaring menyuarakan tentang kasih, namun aplikasi implementasinya selalu meleset ketika mempraktekkannya secara langsung dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak jarang pula, banyak orang yang selalu mengatasnamakan kasih melakukan berbagai tindakan dan perbuatannya, tetapi dalam prakteknya ada maksud-maksud tertentu dibelakangnya, istilahnya “ADA UDANG DI BALIK BATU”. Apakah memang begitu susahkah mempraktekkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari?

Hakekat manusia sebagai mahluk sosial, tidak luput dari adanya interaksi sosial kemasyarakatan didalam kehidupannya. Misalnya, para kawula muda yang pada masa usianya dikonotasikan sangat identik dengan persahabatan yang sangat begitu akrab dan kental, sampai ada sepenggal bait lagu yang mengatakan bahwa “persahabatan itu bagai kepompong, dst...”. Memang, tak dapat kita pungkiri bahwasanya masa usia muda adalah masa-masa yang paling indah dan sangat berkesan bagi siapa saja termasuk penulis sendiri, karena masa muda adalah sepenggal waktu yang dimiliki untuk secara bebas mengeksploitasikan bakat dan kemampuan yang dimiliki dalam diri masing-masing.

Terkadang dalam konsep mengeksploitasikan bakat dan kemampuan khusus yang tertanam dalam diri masing-masing, secara spontan dan tanpa sadar kita banyak membentuk komunitas grup pertemanan, grup pada divisi profesi pekerjaan, grup seperti teman bermain, teman berolahraga, teman mengembangkan skill bersama, teman saling curhat-curhatan bersama, teman bergumul bersama, teman pendidikan luar sekolah bersama, teman persahabatan online (misalnya di facebook atau twitter, path, instagram, line, chat BBM), dan macam bentuk pertemanan lainnya.

Adanya berbagai komunitas-komunitas pertemanan diatas, tentu adalah sebahagian dari tuntutan jaman dan sangat wajar dilakoni, mengingat pergaulan manusia dalam lingkup kehidupan sosial kemasyarakatan adalah sangat penting untuk membentuk kejiwaan (sering disebut dengan “karakter building”) muda mudi Kristen, namun apakah hal ini akan memberikan dampak positif atau malahan efeknya negatif bagi perkembangan kejiwaan manusia, khususnya kawula muda pemuda/pemudi Kristiani saat ini?

Nah, kalau kita membahas apakah dampaknya adalah positif atau negatif, maka sebenarnya banyak aspek ataupun pelbagai pandangan teori yang berhubungan dengan hal tersebut, dan tentu saja akan saling mempertahankan argumennya dan kebenarannya masing-masing, dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa semuanya itu adalah tergantung pada kepribadian kita masing-masing dalam rangka memanajemen diri dalam setiap komunitas pertemanan yang diikuti. Oleh sebab itu pulalah, kita tidak perlu heran ataupun bertanya-tanya bila suatu saat nanti ada sebahagian orang yang dengan mudah dapat terpengaruh dan atau terbawa arus gelombang dari pengaruh teman-temannya yang ada dikomunitasnya, ataupun menemukan fakta bahwasanya ada teman yang sangat aktif memberikan atay menyebarkan pengaruh atau menentukan arah kebijakan kepada kelompoknya.

Nats yang terdapat dalam Kitab Injil Lukas 6 ayat 27 sampai dengan ayat 36 merupakan nats tentang adanya ajaran Yesus Kristus kepada murid-muridNya, kendati pada saat itu banyak sekali orang yang mengikuti Yesus dan sangat ingin mendengarkan kotbah-Nya. Yesus menawarkan 1 (satu) prinsip bagi orang yang mau mendengarNya (baca ayat 27) yaitu kasih. Hingga ayat yang ke-26, Yesus mencontohkan perbuatan kasih yang bagaimana yang dimaksudkan. Membalas kejahatan dengan berbagai kebaikan, mengasihi orang yang tidak mengasihi, mendoakan orang yang telah mencaci maki, menyatakan perbuatan baik tanpa mengharapkan balas jasa, dan murah hati kepada “BAPA DI SORGA”.

Konsep ajaran Yesus Kristus diatas, merupakan karakter yang hanya mungkin bisa dimunculkan dalam diri seseorang yang benar-benar telah memiliki kehidupan rohani Kristiani yang baik, karena apa yang ada didalam memengaruhi tindakan yang tampak jelas dan konkrit. Artinya, Yesus tidak hanya sebatas mengajarkan bagaimana caranya berbuat baik yang dilandaskan pada kasih, namun juga, Yesus benar-benar ingin agar supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki karakter seperti itu.

Kasih yang diajarkan dan ditekankan Yesus bukan merupakan kasih yang hanya tampak didepan mata orang saja (tidak ada sesuatu maksud dibalikmya), melainkan juga kasih yang ditawarkan merupakan kasih yang bagaimana kita melakukannya dengan sadar atau dalam alam pikiran yang waras. Orang tidak cukup hanya dengan menahan diri dari tindakan-tindakan saling bermusuhan, ia harus berbuat sesuatu kepada mereka yang telah membencinya dengan perbuatan kasih yang nyata, sehingga anggapan memusuhi tidak berasal dari diri kita melainkan dari mereka yang telah melakukan kesalahan.

Kalau kita cermati, sungguh luar biasa nats dalam Injil Lukas 6 ayat 27 sampai dengan ayat 36 yang membahas mengenai kasih ini. Sehingga, berdasarkan nats Kitab Lukas 6 ayat 27 sampai dengan ayat 36 ini, maka tidak ada alasan ataupun dasar bagi umat Kristen yang ada diseluruh dunia untuk memiliki musuh dalam kegiatan maupun kehidupannya sehari-hari. Pembentukan karakter kehidupan rohani yang seperti inilah yang akan membuahkan hasil yang baik kepada diri sendiri, kepada keluarga dan juga kepada teman. Prinsip ini semakin dikuatkan oleh Yesus Kristus sendiri hingga kematian-Nya diatas kayu salib, yang mana makna dari kasih yang terdalam ada pada perjalanan-Nya dari mulai tahap penyiksaan sampai dengan disalibkan pada tiang kayu salib. Teladan ini telah diberikan kepada kita selaku umat Kristiani yang wajib diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kontribusi yang diberikan oleh umat Kristen dapat lebih bermakna dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Sekian dan terima kasih.

No comments:

Post a Comment