Tuesday, 8 March 2016

Alasan Umum Suami Isteri Bercerai

Kita melihat akhir-akhir ini, tingginya pengajuan permohonan cerai dan atau talak pada pengadilan negeri dan juga pengadilan agama, tidak terlepas adanya dalil atau alasan umum yang menyebabkan timbulnya percekcokan (pertikaian) yang tidak bisa didamaikan (rukun/rujuk) lagi yang berujung dengan mengambil keputusan untuk pisah (bercerai). Memang, masalah perceraian dalam rumah tangga bukan merupakan hal atau barang baru lagi, namun beberapa tahun belakangan ini sepertinya hal perceraian (cerai hidup) telah kerap terjadi di masyarakat dan telah juga menjadi trending topik di media masa dan jejaring sosial. Tingginya perceraian ini juga menyebabkan, akhir-akhir ini telah banyak para pengacara spesialis perceraian yang mengkhususkan diri memberikan bantuan hukum untuk mengurus masalah yang berkaitan atau berhubungan dengan hukum keluarga ini.

Alasan Umum Penyebab Pasangan Suami Isteri Memilih Perceraian Untuk Mengakhiri Mahligai Rumah Tangga

Masalah perceraian ini, bukan hanya terjadi di kalangan artis (selebritis) seperti yang acap kali kita lihat di televisi, tetapi juga tren ini terjadi di kalangan masyarakat biasa. Bagi pasutri (pasangan suami isteri), masalah perceraian seharusnya menjadi masalah yang harus dianggap serius dalam sebuah rumah tangga, dimana hal ini tidak boleh sepeleh atau remeh. Karena dampak yang nyata dan langsung dari terjadinya perceraian bukan hanya melibatkan kedua belah pihak (suami dan isteri semata), tetapi juga terkait dengan anak-anak dan keluarga besar keduanya.

Berdasarkan pengalaman kami selaku advokat, dari beberapa pernyataan yang dikemukakan oleh klien yang hendak mengajukan permohonan gugatan perceraian ke pengadilan negeri dan atau ke pengadilan agama, ada beberapa alasan-alasan yang disampaikan, khususnya yang menyangkut penyebab umum terjadi keinginan bercerai dan mengakhiri hubungan suami isteri dalam sebuah mahligai rumah tangga. Dimana alasan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Alasan Faktor Ekonomi
Banyak pasangan muda yang telah lama menikah, hidup rumah tangganya masih terus dalam kekurangan, padahal telah dicoba untuk bersabar dalam balutan keluarga yang serba kekurangan. Pada bahagian ini pulalah, banyak pasangan yang tidak kuasa bertahan dalam hidup yang serba kekurangan, khususnya wanita. Sementara, salah satu syarat utama untuk menjalin pernikahan yang harmonis adalah mempunyai pekerjaan layak dan pendapatan ekonomi yang cukup. Jika, urusan keadaan ekonomi dalam rumah tangga semakin menipis, tentu akan menyebabkan banyak masalah baru sehingga menimbulkan pertengkaran dan atau cek-cok antara suami dan isteri.

2. Terjadinya Komunikasi Pasif
Alasan ini juga mencuat kepermukaan sebagai salah satu dalil mengakhiri hubungan suami isteri (perceraian). Banyaknya perceraian terjadi di masyarakat karena kurangnya intensitas komunikasi 2 (dua) arah antara suami dan istri. Jalan terbaik untuk mengatasi komunikasi pasif adalah dengan mencoba untuk melakukan komunikasi aktif dan bersifat terbuka meskipun itu secara tidak langsung (via handphone).

3. Adanya Perbedaan yang Nyata
Sering kali sebuah perbedaan apalagi yang kelihatan secara nyata menyebabkan seseorang melepas hubungan dengan orang lain tanpa adanya tolerasi terlebih dahulu. Seharusnya, adanya perbedaan ini menjadikan seseorang dapat melihat dan lebih mengerti adanya kekurangan antar pasangannya (satu dengan lainnya) dan mencari solusi yang tepat dan efektif untuk bersatu dan saling isi mengisi, bukan malah sebaliknya menjadikan sebagai alasan untuk perpisahan dan perpecahan dalam rumah tangga. Contoh perbedaan ini adalah:
  • Adanya perbedaan faham dan keyakinan;
  • Perbedaan ide dan pemikiran;
  • Perbedaan status sosial dari masing-masing keluarga (kaya dan miskin);
  • Dan masih banyak yang lain lagi;
4. Salah Satu Pasangan Tidak Konsekuensi
Menikah dan berumah tangga adalah sebuah konsekuensi untuk saling percaya, saling setia, saling mencintai, saling menyayangi, bertanggung jawab, saling menjaga, dan saling menghargai. Jika suatu saat rasa konsekuensi ini memudar atau hilang, maka indikasinya akan sangat mudah menyulut terjadi perceraian. Ada beberapa contoh tingkah laku atau perbuatan tidak konsekuensi yang terjadi dalam pernikahan adalah:
  • Mencintai pihak ketiga;
  • Suami mengabaikan tanggung jawab untuk mencari nafkah;
  • Istri tidak menjaga kehormatan dan martabat keluarga;
  • Dan lain sebagainya;
5. Salah Satu Pihak Melakukan Perselingkuhan
Selingkuh adalah merupakan sebuah perbuatan penghianatan dalam rumah tangga. Semua orang pasti tidak menginginkan orang yang dicintainya melakukan perselingkuhan kepada orang lain. Tentu saja hal ini menyebabkan luka yang sangat dalam dan membekas di hati. Luka karena mereka dihianati akan menyebabkan keputusan dini tanpa pertimbangan matang terlebih dahulu, yaitu langsung melakukan perceraian.

6. Masalah Kebutuhan Seks (Nafkah Batin)
Adanya kebutuhan nafkah batin atau seks adalah merupakan salah satu alasan penting mengapa seseorang memilih melangsungkan pernikahan. Selain kebutuhan jasmani, kebutuhan batin pun harus terpenuhi agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga dan langgeng. Terkadang ketidakpuasan dalam urusan seks (nafkah batin) ini, menyebabkan seseorang melakukan perselingkuhan, dimana hal ini akan berujung pada keputusan untuk melakukan perceraian.

7. Kesibukan Pekerjaan yang Berlebihan
Rutinitas bekerja yang sangat sibuk, membuat kedua pihak (suami dan istrei) jarang melakukan komunikasi aktif. Aktifitas pekerjaan yang berlebihan membuat lelah, sehingga saat pulang kerja keduanya mungkin akan menghabiskan waktu untuk langsung tidur atau beristirahat. Keadaan seperti ini tentunya sangat tidak baik dan tidak harmonis, apalagi ketika beban pekerjaan semakin bertambah dan menumpuk akan menimbulkan stres. Beban pikiran yang berlebihan karena pekerjaan terkadang membuat keduanya mudah marah dan tidak bisa mengkontrol emosi sehingga menimbulkan pertengkaran terus menerus.

8. Kurangnya Perhatian Terhadap Pasangan
Hakekat dari sifat manusia yang memiliki watak senang diperhatikan, dipuja dan dipuji, diakui, dicintai, dan disayangi. Jika dalam keluarga salah satu pasangan mendapatkan perhatian kurang, maka bibit-bibit kemesraan dalam rumah tangga pun akan tidak akan tumbul menjadi tunas yang baru. Dan tentu saja hal ini bisa memperbesar peluang perceraian antara keduanya.

9. Saling Curiga Mencurigai
Saling mencurigai pasangan adalah sebuah penyakit yang harus segera diobati, karena hal ini akan menimbulkan prasangka buruk, menuduh, dan fitnah di dalam kehidupan berumah tangga. Sifat ini biasanya dimiliki oleh pasangan yang protektif.

10. Pasangan Sering Bertengkar
Adanya pertengkaran dalam rumah tangga pasti dialami oleh banyak pasangan. Namun, pertengkaran sekecil apapun itu, sebaiknya tidak dianggap remeh, apalagi jika watak keduanya (suami dan isteri) mudah tersinggung dan sulit untuk berdamai (rujuk), tentu hal ini akan sangat mudah untuk mengeluarkan kata-kata yang bernada perceraian. Jika pertengkaran suami isteri sering terjadi, maka akan sangat mudah mereka untuk memilih bercerai.

11. Intimidasi dan Tindak Kekerasan (KDRT)
Intimidasi atau perkataan kasar yang dilontarkan oleh suami kepada istri atau sebaliknya, dapat mematikan kemesraan dan keharmonisan dalam rumah tangga, apalagi jika sampai terjadi kekerasan (misalnya pemukulan) dalam rumah tangga. Siapapun itu, apalagi seorang istri adalah manusia yang mempunyai perasaan dan hati, intimidasi dan kekerasan (KDRT) akan membuatnya lebih memilih untuk memutuskan hubungan perkawinan dari pada bertahan di dalam penderitaan mengalami siksaan fisik.

12. Tidak Mempunyai Keturunan (Anak)
Memang salah satu alasan orang untuk berumah tangga (menikah) adalah untuk mendapatkan keturunan (anak). Sehingga sering juga alasan ini dijadikan sebagai dasar seseorang hingga mau mengakhiri rumah tangganya dengan jalan perceraian. Apalagi bila salah satu pasangan, masih memegang teguh adat istiadat.

Itulah beberapa alasan umum yang dijadikan orang untuk melakukan perceraian dan atau cerai talak. Semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih.

No comments:

Post a Comment